Lactose intolerance living in children
Berdasarkan panduan klinis Saudi
Gambaran umum
Intoleransi laktosa adalah kondisi ketika tubuh anak tidak dapat mencerna laktosa (gula alami dalam susu) dengan baik karena kekurangan enzim laktase. Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna akan menyebabkan gejala seperti perut kembung, kram, dan diare.
Fakta penting
- Intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu sapi; alergi melibatkan sistem kekebalan tubuh, sedangkan intoleransi hanya masalah pencernaan.
- Kondisi ini bisa bersifat sementara (misalnya setelah infeksi usus) atau menetap seumur hidup.
- Anak dengan intoleransi laktosa masih bisa mendapatkan kalsium dari sumber lain seperti susu kedelai yang diperkaya, sayuran hijau, dan ikan teri.
Ya, intoleransi laktosa cukup umum terjadi pada anak-anak, terutama pada kelompok etnis Asia, Afrika, dan penduduk asli Amerika. Di Indonesia, banyak anak mengalami kondisi ini karena faktor genetik dan pola makan.
Intoleransi laktosa paling sering muncul pada anak usia di atas 2 tahun, tetapi bisa juga terjadi pada bayi prematur. Anak dengan riwayat keluarga intoleransi laktosa atau penyakit usus (seperti penyakit Crohn) lebih berisiko.
Gejala
- Diare berat disertai tanda dehidrasi: mulut kering, mata cekung, menangis tanpa air mata, atau buang air kecil sangat sedikit
- Nyeri perut hebat yang tidak hilang, terutama jika disertai demam tinggi atau muntah terus-menerus
- ⚠Gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari atau membuat anak sangat tidak nyaman
- ⚠Berat badan anak tidak naik dalam beberapa bulan atau anak tampak sangat lesu
Gejala umum
- Perut kembung atau begah
- Kram atau nyeri perut
- Diare encer atau berbusa setelah minum susu
- Perut bunyi-bunyi (borborygmi)
- Mual dan kadang muntah
Gejala pada anak-anak
- Gejala yang sama seperti di atas, namun anak mungkin lebih rewel, lesu, dan tidak mau menyusu atau minum susu
- Gagal tumbuh (berat badan dan tinggi badan tidak sesuai usia) jika intoleransi parah dan tidak ditangani
- Ruam popok akibat diare asam
Gejala pada lansia
- Gejala dapat muncul tiba-tiba meski sebelumnya tidak pernah mengalami masalah susu
- Kembung dan diare lebih sering terjadi, serta bisa menyebabkan penurunan nafsu makan
Penyebab
Penyebab utama
- Kekurangan enzim laktase di usus halus yang berfungsi memecah laktosa
- Intoleransi laktosa primer (genetik) – produksi laktase menurun secara alami seiring bertambahnya usia
- Intoleransi laktosa sekunder – akibat kerusakan usus karena infeksi, alergi makanan, atau penyakit celiac (biasanya sementara)
- Intoleransi laktosa kongenital (sangat jarang) – bayi lahir tanpa kemampuan memproduksi laktase
Faktor risiko
- Riwayat keluarga dengan intoleransi laktosa
- Kelahiran prematur (usus belum matang)
- Infeksi usus atau gastroenteritis berulang
- Penyakit pencernaan seperti penyakit Crohn atau kolitis ulserativa
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter jika:
- Jika anak menunjukkan tanda dehidrasi setelah diare hebat
- Jika sakit perut sangat parah hingga anak menangis terus atau tidak bisa tenang
Buat janji temu rutin jika:
- Anak sering mengeluh kembung atau diare setelah minum susu atau makan produk susu
- Pertumbuhan anak lambat atau berat badan sulit naik
- Setelah infeksi usus yang parah, untuk evaluasi kemungkinan intoleransi sekunder
Diagnosis
Dokter akan menanyakan riwayat gejala dan pola makan anak. Untuk memastikan diagnosis, dokter mungkin meminta anak menghindari susu selama 1–2 minggu untuk melihat apakah gejala membaik.
Tes yang mungkin dilakukan
- Tes napas hidrogen – anak minum larutan laktosa, lalu napasnya diperiksa untuk mengukur kadar gas hidrogen (tanda laktosa tidak tercerna)
- Tes toleransi laktosa – mengukur kadar gula darah setelah minum laktosa
- Tes keasaman tinja – pada bayi dan anak kecil, untuk mendeteksi adanya asam laktat dari laktosa yang tidak dicerna
Apa yang diharapkan saat janji temu
Dokter akan menjelaskan hasil tes dan memberikan saran pola makan. Mungkin perlu berkonsultasi dengan ahli gizi untuk memastikan kebutuhan kalsium dan vitamin D anak tetap terpenuhi.
Perawatan
Penanganan utama intoleransi laktosa adalah mengurangi atau menghindari makanan dan minuman yang mengandung laktosa, sesuai toleransi masing-masing anak.
Perawatan mandiri di rumah
- Catat makanan dan minuman yang memicu gejala anak
- Pilih produk bebas laktosa atau rendah laktosa yang banyak tersedia di pasaran
- Gunakan suplemen enzim laktase sesuai petunjuk dokter atau apoteker (dapat membantu saat mengonsumsi produk susu dalam jumlah kecil)
- Perhatikan label makanan – laktosa bisa terdapat dalam roti, sereal, saus, dan obat-obatan
Perawatan medis
Tidak ada obat khusus untuk menyembuhkan intoleransi laktosa primer. Jika intoleransi disebabkan oleh kondisi lain (seperti infeksi usus), dokter akan mengobati penyebabnya. Suplemen enzim laktase dapat digunakan sebagai bantuan, tetapi harus dengan anjuran tenaga kesehatan. Konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi untuk merencanakan pola makan yang seimbang.
Kapan operasi dipertimbangkan?
Pembedahan tidak diperlukan untuk intoleransi laktosa.
Hidup dengan kondisi ini
Anak perlu belajar mengenali gejala dan memilih makanan yang aman. Bawalah bekal camilan bebas laktosa saat bepergian. Komunikasikan dengan pihak sekolah agar anak tidak dipaksa minum susu di kantin.
Tips gaya hidup
- Biasakan membaca label makanan untuk mencari kata 'laktosa', 'susu', atau 'whey'
- Sediakan susu alternatif seperti susu kedelai, susu almond, atau susu beras yang diperkaya kalsium
- Masak sendiri makanan anak untuk mengontrol kandungan laktosa
- Ajari anak untuk menolak makanan yang tidak diketahui kandungannya dengan sopan
Diet dan olahraga
Pastikan anak tetap mendapatkan kalsium dan vitamin D dari sumber non-susu, seperti tahu, tempe, sayuran hijau (bayam, brokoli), ikan teri, dan sereal yang diperkaya. Olahraga teratur seperti bermain di luar membantu penyerapan kalsium dan menjaga kesehatan tulang.
Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional
Anak mungkin merasa berbeda atau ketinggalan saat teman-temannya menikmati es krim atau pizza. Dukung anak dengan menjelaskan bahwa ini bukan penyakit berbahaya dan ada banyak alternatif lezat. Jika anak tampak sedih atau cemas, bicarakan perasaannya dan libatkan psikolog anak jika perlu.
Pencegahan
Intoleransi laktosa primer tidak dapat dicegah karena faktor genetik. Namun, intoleransi sekunder dapat dicegah dengan menjaga kesehatan usus, misalnya dengan menangani infeksi usus segera dan memberikan ASI eksklusif pada bayi.
Program skrining
Tidak ada pemeriksaan rutin untuk mendeteksi intoleransi laktosa pada anak tanpa gejala. Pemeriksaan hanya dilakukan jika ada keluhan.
Komplikasi
Jika tidak diobati
- Kekurangan kalsium dan vitamin D yang dapat menyebabkan pertumbuhan tulang kurang optimal dan risiko osteoporosis di kemudian hari
- Berat badan sulit naik dan pertumbuhan terhambat
- Dehidrasi akibat diare berulang
- Gangguan pencernaan kronis yang memengaruhi kualitas hidup anak
Prospek jangka panjang
Dengan penanganan yang tepat, sebagian besar anak dengan intoleransi laktosa dapat hidup normal dan sehat. Mereka tetap bisa mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dari berbagai sumber makanan. Banyak anak yang intoleransinya bersifat sementara dan bisa pulih sepenuhnya.
Cari dukungan
Organisasi lokal
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) · Indonesia
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia · Indonesia
Tautan eksternal membuka situs web pihak ketiga. Ruqelo Health tidak bertanggung jawab atas konten eksternal. Mencantumkan organisasi tidak berarti dukungan.
Selalu pastikan dengan dokter Anda
Pedoman kesehatan bervariasi menurut negara dan wilayah. Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pedoman klinis internasional tetapi mungkin tidak mencerminkan pedoman, obat-obatan, atau praktik spesifik di negara Anda. Selalu diskusikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda sendiri, dan rujuk ke pedoman kesehatan nasional setempat jika tersedia.
Pemberitahuan penting Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi. Tidak menggantikan nasihat medis, diagnosis, atau perawatan profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi tentang kondisi spesifik Anda. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi layanan darurat setempat.
Kondisi terkait
Sumber dan panduan
Artikel ini bersifat edukatif dan disusun dengan mengacu pada sumber informasi kesehatan serta panduan klinis yang diakui jika tersedia. Tautan sumber spesifik dapat bervariasi menurut topik.
Terakhir diperbarui: 20 Juli 2026
Catatan edukatif: Informasi ini hanya untuk edukasi dan bukan diagnosis.
Gunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, saran tenaga kesehatan berlisensi.
Jika gejala parah, memburuk, atau mendesak, hubungi nomor darurat setempat atau cari perawatan darurat.