Urinary retention
Berdasarkan panduan klinis Saudi
Gambaran umum
Retensi urine adalah kondisi ketika kandung kemih tidak bisa mengosongkan urine sepenuhnya. Ini berarti Anda sulit buang air kecil atau tidak bisa buang air kecil sama sekali, meskipun kandung kemih terasa penuh.
Fakta penting
- Retensi urine bisa terjadi secara tiba-tiba (akut) atau berlangsung lama (kronis).
- Kondisi ini lebih sering dialami oleh pria lanjut usia, tetapi juga bisa terjadi pada wanita dan anak-anak.
- Jika tidak ditangani, retensi urine dapat menyebabkan infeksi saluran kemih, batu kandung kemih, hingga kerusakan ginjal.
Cukup umum, terutama pada pria di atas usia 50 tahun. Namun, siapa pun bisa mengalaminya.
Pria lebih sering terkena, terutama akibat pembesaran prostat. Wanita bisa mengalaminya setelah melahirkan atau operasi panggul. Anak-anak kadang mengalami retensi urine karena masalah saraf atau sumbatan.
Gejala
- Tidak bisa buang air kecil sama sekali dan perut terasa sangat nyeri
- Nyeri hebat di perut bagian bawah atau pinggang
- Muntah, demam, atau menggigil (tanda infeksi serius)
- ⚠Sulit buang air kecil dan sudah berlangsung lebih dari 6-8 jam
- ⚠Ada darah dalam urine
- ⚠Nyeri saat buang air kecil yang memberat
Gejala umum
- Sulit memulai buang air kecil
- Aliran urine lemah atau terputus-putus
- Perut bagian bawah terasa penuh atau begah
- Sering ingin buang air kecil, tapi hanya sedikit keluar
- Nyeri atau rasa tidak nyaman di perut bagian bawah
- Tidak bisa buang air kecil sama sekali (retensi akut)
Gejala pada anak-anak
- Anak mungkin mengeluh sakit perut, sering pegang perut bagian bawah
- Rewel atau menangis saat buang air kecil
- Mengompol padahal sebelumnya sudah bisa kering
Gejala pada lansia
- Kebingungan atau gelisah mendadak akibat ketidaknyamanan
- Infeksi saluran kemih berulang
- Inkontinensia (tidak bisa menahan kencing) karena kandung kemih meluap
Penyebab
Penyebab utama
- Pembesaran prostat jinak (pada pria)
- Sumbatan di saluran kemih (batu, tumor, atau jaringan parut)
- Gangguan saraf yang mengontrol kandung kemih (misalnya akibat stroke, diabetes, atau cedera tulang belakang)
- Efek samping obat-obatan tertentu (seperti antihistamin, dekongestan, atau obat antidepresan)
- Konstipasi parah yang menekan kandung kemih
Faktor risiko
- Usia lanjut (terutama pria)
- Riwayat infeksi saluran kemih berulang
- Diabetes atau penyakit saraf
- Penggunaan obat-obatan yang memengaruhi otot kandung kemih
- Riwayat operasi panggul atau prostat
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter jika:
- Jika Anda tidak bisa buang air kecil sama sekali dan perut terasa penuh serta nyeri – segera ke IGD.
- Jika mengalami demam, menggigil, atau muntah bersamaan dengan kesulitan buang air kecil.
Buat janji temu rutin jika:
- Jika Anda sering sulit buang air kecil atau aliran urine lemah – periksakan ke dokter umum atau dokter spesialis urologi.
- Jika Anda sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil lebih dari 2 kali.
Diagnosis
Dokter akan menanyakan keluhan Anda, melakukan pemeriksaan fisik (misalnya meraba perut), dan mungkin meminta Anda menjalani beberapa tes untuk melihat fungsi kandung kemih dan mencari penyebabnya.
Tes yang mungkin dilakukan
- Tes urine (urin-analisis) – untuk mencari infeksi atau darah.
- USG kandung kemih dan ginjal – untuk melihat sisa urine setelah buang air kecil dan mencari sumbatan.
- Pemeriksaan uroflowmetri – mengukur kecepatan aliran urine.
- Kateterisasi – memasukkan selang kecil ke kandung kemih untuk mengeluarkan urine dan mengukur sisa urine.
Apa yang diharapkan saat janji temu
Proses diagnosis umumnya tidak sakit, hanya perlu sedikit sabar. Dokter akan memandu Anda langkah demi langkah. Jika diperlukan, Anda akan dirujuk ke dokter spesialis urologi.
Perawatan
Penanganan retensi urine bertujuan untuk mengeluarkan urine yang tertahan dan mengatasi penyebabnya. Cara pengobatan tergantung pada jenis retensi (akut atau kronis) dan penyebab yang mendasarinya.
Perawatan mandiri di rumah
- Coba rileks saat buang air kecil – duduk dengan tenang, jangan terburu-buru.
- Kompres hangat di perut bagian bawah untuk membantu merelaksasi otot.
- Pijat lembut daerah kandung kemih (di bawah pusar) sambil mencoba buang air kecil.
- Minum air putih secukupnya, tapi jangan berlebihan jika sudah tidak bisa kencing.
Perawatan medis
Dokter mungkin akan memasang kateter (selang kecil) untuk mengeluarkan urine yang tertahan, terutama pada kasus akut. Untuk retensi kronis, dokter bisa memberikan obat yang membantu merelaksasi otot prostat atau kandung kemih, atau menyarankan latihan kandung kemih. Jangan pernah minum obat tanpa resep dokter.
Kapan operasi dipertimbangkan?
Jika penyebabnya adalah pembesaran prostat yang tidak membaik dengan obat, atau ada sumbatan fisik (batu, tumor), dokter mungkin menyarankan tindakan operasi untuk mengatasi sumbatan tersebut.
Hidup dengan kondisi ini
Hidup dengan retensi urine kronis butuh kesabaran. Anda perlu rutin memeriksakan diri ke dokter dan mungkin harus menggunakan kateter sementara atau jangka panjang. Ikuti petunjuk dokter tentang cara merawat kateter agar tidak infeksi.
Tips gaya hidup
- Buang air kecil secara terjadwal, misalnya setiap 3-4 jam, jangan menahan terlalu lama.
- Hindari kafein dan alkohol karena bisa memperburuk iritasi kandung kemih.
- Pastikan Anda cukup minum, tetapi kurangi minum menjelang tidur.
Diet dan olahraga
Makan makanan tinggi serat (sayur, buah, biji-bijian) untuk mencegah konstipasi, karena sembelit bisa memperparah retensi urine. Olahraga ringan seperti jalan kaki membantu melancarkan sirkulasi dan menjaga fungsi saraf.
Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional
Mengalami kesulitan buang air kecil bisa membuat stres atau malu. Ingatlah bahwa ini adalah kondisi medis yang umum dan bisa diobati. Jangan ragu bicarakan perasaan Anda dengan dokter atau orang terpercaya. Jika Anda merasa cemas atau depresi, segera cari bantuan tenaga kesehatan jiwa.
Pencegahan
Tidak semua kasus bisa dicegah, tetapi Anda bisa menurunkan risikonya dengan menjaga kesehatan saluran kemih: minum cukup air, tidak menahan kencing terlalu lama, dan menghindari konstipasi.
Vaksin
Tidak ada vaksin khusus untuk retensi urine. Namun, vaksinasi seperti vaksin pneumokokus dan influenza dapat mencegah infeksi yang bisa memperburuk kondisi.
Program skrining
Pria di atas 50 tahun disarankan memeriksakan prostat secara rutin sesuai panduan Kemenkes. Jika Anda memiliki faktor risiko, bicarakan dengan dokter tentang pemeriksaan berkala.
Komplikasi
Jika tidak diobati
- Infeksi saluran kemih berulang
- Batu kandung kemih
- Kerusakan ginjal hingga gagal ginjal
- Inkontinensia urine (kencing tak tertahan karena kandung kemih meluap)
- Perdarahan di saluran kemih
Prospek jangka panjang
Kabar baiknya, retensi urine sangat bisa diobati. Dengan penanganan yang tepat, kebanyakan orang bisa buang air kecil normal kembali. Bahkan jika penyebabnya tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, pengobatan dapat membantu Anda menjalani hidup dengan nyaman. Semakin dini ditangani, semakin baik hasilnya.
Cari dukungan
Tautan eksternal membuka situs web pihak ketiga. Ruqelo Health tidak bertanggung jawab atas konten eksternal. Mencantumkan organisasi tidak berarti dukungan.
Selalu pastikan dengan dokter Anda
Pedoman kesehatan bervariasi menurut negara dan wilayah. Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pedoman klinis internasional tetapi mungkin tidak mencerminkan pedoman, obat-obatan, atau praktik spesifik di negara Anda. Selalu diskusikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda sendiri, dan rujuk ke pedoman kesehatan nasional setempat jika tersedia.
Pemberitahuan penting Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi. Tidak menggantikan nasihat medis, diagnosis, atau perawatan profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi tentang kondisi spesifik Anda. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi layanan darurat setempat.
Sumber dan panduan
Artikel ini bersifat edukatif dan disusun dengan mengacu pada sumber informasi kesehatan serta panduan klinis yang diakui jika tersedia. Tautan sumber spesifik dapat bervariasi menurut topik.
Terakhir diperbarui: 16 Juli 2026
Catatan edukatif: Informasi ini hanya untuk edukasi dan bukan diagnosis.
Gunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, saran tenaga kesehatan berlisensi.
Jika gejala parah, memburuk, atau mendesak, hubungi nomor darurat setempat atau cari perawatan darurat.