Ringkasan edukasi — bukan nasihat medis. Diskusikan dengan tenaga kesehatan Anda.
Berdasarkan panduan klinis Saudi
Gambaran umum
Kultur tenggorokan adalah tes untuk mencari bakteri penyebab infeksi di tenggorokan. Dokter menggunakan kapas steril untuk mengambil sampel lendir dari bagian belakang tenggorokan. Sampel kemudian dikirim ke laboratorium untuk ditumbuhkan dan diidentifikasi bakterinya. Tes ini membantu dokter memastikan apakah sakit tenggorokan disebabkan oleh bakteri (misalnya Streptococcus) atau virus.
Fakta penting
Tes ini sederhana dan tidak menyakitkan, hanya sedikit rasa tidak nyaman saat kapas menyentuh tenggorokan.
Hasil kultur biasanya memakan waktu 1–2 hari, tetapi ada juga tes cepat yang hasilnya keluar dalam beberapa menit.
Kultur tenggorokan sering dilakukan untuk mendiagnosis radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus (streptococcus pharyngitis) agar dapat diberikan antibiotik yang tepat.
Ya, kultur tenggorokan cukup umum dilakukan, terutama pada anak-anak dan orang dewasa dengan gejala sakit tenggorokan berat, demam tinggi, atau pembengkakan kelenjar getah bening di leher.
Pertanyaan tentang artikel ini
Tes ini dapat dilakukan pada siapa saja yang mengalami gejala infeksi tenggorokan, tetapi paling sering digunakan pada anak-anak usia 5–15 tahun dan dewasa muda yang kontak erat dengan penderita radang tenggorokan.
Gejala
Segera hubungi layanan darurat jika Anda melihat:
Kesulitan bernapas atau napas berbunyi (stridor)
Tidak mampu menelan air liur hingga menetes
Bengkak di leher yang parah hingga sulit membuka mulut
Demam sangat tinggi (di atas 40°C) yang tidak turun dengan obat penurun panas
Segera temui dokter (hari yang sama) jika Anda melihat:
⚠Sakit tenggorokan hebat sehingga tidak bisa makan atau minum sama sekali selama 24 jam
⚠Demam tinggi yang tidak kunjung turun setelah 3 hari
⚠Keluarnya nanah di tenggorokan atau bercak putih yang meluas
⚠Nyeri sendi atau ruam kulit yang muncul bersamaan
Gejala umum
Sakit tenggorokan parah yang berlangsung lebih dari 2 hari
Demam di atas 38°C
Kelenjar getah bening di leher membengkak dan nyeri
Tonsil (amandel) merah, bengkak, atau ada bercak putih/kuning
Nyeri saat menelan
Sakit kepala, mual, atau muntah
Gejala pada anak-anak
Anak mungkin rewel, menolak makan atau minum karena nyeri telan
Demam tinggi yang tiba-tiba
Mengeluh sakit perut (terutama pada anak usia sekolah)
Jika sangat muda, bisa tampak lesu dan air liur berlebihan
Gejala pada lansia
Sakit tenggorokan yang terasa berat, namun kadang hanya keluhan ringan
Demam tinggi yang sulit turun
Kesulitan menelan hingga berat badan turun
Mudah lelah dan bingung karena infeksi
Penyebab
Penyebab utama
Kultur tenggorokan dilakukan untuk memastikan penyebab infeksi tenggorokan, terutama bakteri Streptococcus grup A (penyebab radang tenggorokan streptococcus).
Bakteri lain seperti Haemophilus influenzae, Neisseria gonorrhoeae, atau Corynebacterium diphtheriae jarang, tetapi dapat dideteksi dengan tes ini.
Faktor risiko
Usia 5–15 tahun (paling rentan terhadap streptococcus grup A)
Kontak erat dengan orang yang terinfeksi (di sekolah, rumah, atau tempat kerja)
Musim dingin atau pancaroba
Sistem kekebalan tubuh lemah (karena stres, kurang tidur, atau penyakit kronis)
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter jika:
Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala di bagian 'emergency' seperti kesulitan bernapas atau tidak bisa menelan air liur, segera hubungi layanan darurat (misalnya 119 atau nomor darurat setempat) atau pergi ke UGD terdekat.
Jika demam sangat tinggi dan tidak turun dengan obat penurun panas setelah 3 hari.
Buat janji temu rutin jika:
Jika sakit tenggorokan berlangsung lebih dari 2 hari dan disertai demam, pembengkakan kelenjar, atau bercak putih di amandel.
Jika Anda pernah didiagnosis demam rematik atau masalah ginjal karena streptococcus sebelumnya, periksakan segera jika timbul gejala.
Jika Anda hamil dan mengalami sakit tenggorokan berat, konsultasikan dengan bidan atau dokter agar dapat dilakukan tes.
Tidak semua sakit tenggorokan memerlukan kultur. Sebagian besar sakit tenggorokan disebabkan virus dan akan membaik sendiri dengan istirahat. Tes ini hanya diperlukan jika dokter mencurigai infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik. Jika gejala ringan (pilek, batuk, suara serak), cukup lakukan perawatan di rumah dan perhatikan perkembangannya.
Diagnosis
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, melihat tenggorokan, leher, dan suhu tubuh. Jika dicurigai infeksi bakteri, dokter akan melakukan usap tenggorokan (swab) untuk dijadikan sampel. Sampel ini diperiksa di laboratorium untuk melihat apakah bakteri penyebab tumbuh. Kadang juga dilakukan tes cepat (Rapid Strep Test) yang memberikan hasil dalam 10–15 menit.
Tes yang mungkin dilakukan
Rapid Strep Test: tes cepat yang mendeteksi antigen bakteri Streptococcus dari usap tenggorokan. Hasil positif berarti kemungkinan besar infeksi bakteri.
Kultur tenggorokan: sampel ditumbuhkan di media khusus di laboratorium. Hasil pasti biasanya keluar dalam 24–48 jam dan dapat mengidentifikasi jenis bakteri secara lengkap.
Apa yang diharapkan saat janji temu
Anda akan diminta membuka mulut lebar. Dokter atau perawat akan menekan lidah dengan spatel kayu lalu mengusapkan kapas steril ke bagian belakang tenggorokan dan amandel. Proses ini hanya beberapa detik, mungkin terasa ingin muntah atau tidak nyaman, tetapi tidak sakit. Setelah itu, Anda bisa pulang. Hasil tes akan diberikan dalam beberapa hari.
Perawatan
Perawatan tergantung pada penyebab infeksi. Jika hasil kultur menunjukkan bakteri (seperti Streptococcus grup A), dokter akan meresepkan antibiotik untuk membunuh bakteri. Jika virus yang menjadi penyebab (kultur negatif), antibiotik tidak diperlukan. Perawatan berfokus pada meredakan gejala dan mencegah komplikasi.
Perawatan mandiri di rumah
Istirahat yang cukup agar tubuh melawan infeksi.
Minum air hangat atau teh dengan madu untuk meredakan tenggorokan.
Kumur dengan air garam hangat (setengah sendok teh garam dalam segelas air) setiap beberapa jam.
Hindari makanan pedas, asam, atau keras yang bisa mengiritasi tenggorokan.
Jaga kelembapan udara di kamar, misalnya dengan menggunakan humidifier atau meletakkan baskom berisi air.
Perawatan medis
Jika bakteri penyebab terdeteksi, dokter akan meresepkan antibiotik yang sesuai. Penting untuk menghabiskan seluruh dosis antibiotik sesuai petunjuk dokter, meskipun gejala sudah membaik. Obat pereda nyeri seperti parasetamol atau ibuprofen dapat digunakan sesuai anjuran untuk menurunkan demam dan mengurangi nyeri. Tidak disarankan membeli antibiotik sendiri tanpa resep dokter.
Kapan operasi dipertimbangkan?
Dalam kasus infeksi yang berulang dan parah, misalnya abses peritonsil (kumpulan nanah di sekitar amandel), mungkin diperlukan tindakan drainase atau operasi pengangkatan amandel (tonsilektomi). Namun, ini jarang dilakukan dan hanya berdasarkan pertimbangan dokter spesialis THT.
Hidup dengan kondisi ini
Selama menjalani pengobatan, jaga komunikasi dengan dokter. Jika antibiotik diresepkan, minum tepat waktu. Pantau suhu tubuh dan perhatikan gejala perburukan. Sebagian besar orang mulai merasa lebih baik dalam 2–3 hari setelah minum antibiotik. Meskipun begitu, tetap istirahat dan hindari beraktivitas berlebihan hingga benar-benar pulih.
Tips gaya hidup
Cuci tangan secara teratur dengan sabun dan air mengalir, terutama setelah batuk atau bersin.
Gunakan masker jika harus keluar rumah untuk melindungi orang lain dari penularan.
Ganti sikat gigi setelah mulai minum antibiotik untuk mencegah infeksi ulang.
Jangan berbagi peralatan makan, minum, atau handuk dengan orang lain.
Diet dan olahraga
Fokus pada makanan yang mudah ditelan seperti bubur, sup hangat, yogurt, atau smoothie. Hindari minuman dingin dan makanan keras yang dapat melukai tenggorokan. Olahraga ringan seperti jalan kaki boleh dilakukan jika tidak lemas, namun istirahat lebih utama selama fase akut.
Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional
Sakit tenggorokan yang berkepanjangan bisa membuat frustrasi dan mengganggu tidur. Rasa nyeri saat menelan bisa membuat makan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan. Pahami bahwa ini bersifat sementara. Lakukan hal-hal yang menenangkan seperti mendengarkan musik, membaca buku, atau menonton film. Jika kecemasan berlebih, bicarakan dengan orang terdekat.
Pencegahan
Beberapa langkah dapat mengurangi risiko terkena infeksi bakteri tenggorokan, tetapi tidak dapat sepenuhnya dicegah. Menjaga kebersihan tangan, menutup mulut saat batuk atau bersin, dan menjauhi orang yang sedang sakit sangat membantu.
Vaksin
Tidak ada vaksin khusus untuk radang tenggorokan akibat Streptococcus. Namun, imunisasi rutin (seperti vaksin influenza dan vaksin pneumonia) dapat mencegah infeksi virus/bakteri lain yang menyerang saluran napas.
Program skrining
Tidak ada skrining rutin untuk radang tenggorokan pada populasi umum. Tes kultur hanya dilakukan jika ada gejala yang mengarah ke infeksi bakteri.
Komplikasi
Jika tidak diobati
Demam rematik — peradangan yang bisa merusak katup jantung dan sendi.
Glomerulonefritis pasca-streptokokus — peradangan ginjal yang bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan pembengkakan.
Penyebaran infeksi ke jaringan sekitarnya, seperti abses peritonsil (kumpulan nanah di belakang amandel) atau selulitis leher.
Komplikasi kehamilan seperti infeksi yang mempengaruhi janin (risiko rendah, namun tetap perlu diwaspadai).
Prospek jangka panjang
Dengan penanganan yang tepat, infeksi bakteri tenggorokan biasanya sembuh total tanpa meninggalkan masalah jangka panjang. Pengobatan antibiotik sangat efektif untuk mencegah komplikasi serius. Sebagian besar orang mulai merasa lebih baik dalam beberapa hari dan kembali beraktivitas normal dalam seminggu. Kunci utama adalah mengenali gejala awal dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan agar mendapatkan tes dan pengobatan yang sesuai.
Cari dukungan
Tautan eksternal membuka situs web pihak ketiga. Ruqelo Health tidak bertanggung jawab atas konten eksternal. Mencantumkan organisasi tidak berarti dukungan.
Selalu pastikan dengan dokter Anda
Pedoman kesehatan bervariasi menurut negara dan wilayah. Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pedoman klinis internasional tetapi mungkin tidak mencerminkan pedoman, obat-obatan, atau praktik spesifik di negara Anda. Selalu diskusikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda sendiri, dan rujuk ke pedoman kesehatan nasional setempat jika tersedia.
Pemberitahuan penting Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi. Tidak menggantikan nasihat medis, diagnosis, atau perawatan profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi tentang kondisi spesifik Anda. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi layanan darurat setempat.
Sumber dan panduan
Artikel ini bersifat edukatif dan disusun dengan mengacu pada sumber informasi kesehatan serta panduan klinis yang diakui jika tersedia. Tautan sumber spesifik dapat bervariasi menurut topik.
Terakhir diperbarui: 8 Juli 2026
Catatan edukatif: Informasi ini hanya untuk edukasi dan bukan diagnosis.
Gunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, saran tenaga kesehatan berlisensi.
Jika gejala parah, memburuk, atau mendesak, hubungi nomor darurat setempat atau cari perawatan darurat.