Sepsis pada Bayi Baru Lahir
Berdasarkan panduan klinis Saudi
Gambaran umum
Sepsis pada bayi baru lahir adalah kondisi serius ketika tubuh bayi bereaksi hebat terhadap infeksi yang masuk ke aliran darah. Infeksi ini bisa berasal dari kuman (bakteri, virus, atau jamur) yang masuk sebelum, saat, atau setelah lahir. Karena sistem kekebalan bayi yang masih sangat lemah, sepsis bisa berkembang cepat dan membahayakan nyawa, tetapi jika ditangani dengan cepat dan tepat, sebagian besar bayi dapat pulih.
Fakta penting
- Sepsis pada bayi baru lahir termasuk kegawatdaruratan medis yang membutuhkan penanganan segera.
- Gejalanya bisa tidak khas, seperti bayi terlihat lemas, malas minum, atau suhu tubuh tidak stabil.
- Penanganan utama adalah antibiotik dan perawatan suportif di rumah sakit, biasanya di ruang perawatan intensif bayi (NICU).
- Dengan diagnosis dan terapi yang cepat, banyak bayi baru lahir dengan sepsis dapat bertahan dan tumbuh normal.
Sepsis pada bayi baru lahir lebih sering terjadi pada bayi prematur atau bayi dengan berat lahir rendah. Meski tidak tergolong sangat umum pada bayi cukup bulan yang sehat, kondisi ini tetap menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian bayi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Sepsis bisa menyerang bayi baru lahir, terutama yang lahir kurang bulan (prematur), berat lahir rendah, atau bayi yang membutuhkan perawatan intensif. Bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi (misalnya infeksi selaput ketuban) atau bayi yang mengalami persalinan lama juga berisiko lebih tinggi.
Gejala
- Bayi berhenti bernapas atau napas sangat lemah dan tidak teratur
- Bayi tidak sadarkan diri atau tidak merespons saat digendong/diajak bicara
- Kulit bayi berwarna keunguan atau sangat pucat, khususnya di bibir, wajah, atau seluruh tubuh
- Bayi kejang
- Bayi terlihat sangat lemas dan tidak menyusu sama sekali
- ⚠Demam tinggi (suhu > 38°C) atau suhu tubuh kurang dari 36°C pada bayi baru lahir
- ⚠Bayi sulit dibangunkan atau sangat mengantuk terus-menerus
- ⚠Bayi muntah terus atau tidak mau minum sama sekali
- ⚠Bayi tampak sesak napas atau napas cepat lebih dari 60 kali per menit
- ⚠Bayi kuning yang muncul dalam 24 jam pertama atau meluas sampai tangan dan kaki
- ⚠Pusar atau kulit tampak merah, bengkak, atau keluar cairan nanah (bisa jadi sumber infeksi)
Gejala umum
- Demam atau justru suhu tubuh yang terlalu rendah (hipotermia)
- Bayi tampak lemas, kurang aktif, atau mengantuk terus-menerus
- Tidak mau menyusu atau minum susu (refuses feeding)
- Napas cepat atau sesak napas, kadang disertai suara mendengkur
- Detak jantung yang terlalu cepat atau terlalu lambat
- Kulit pucat, kebiruan (sianosis), atau timbul bintik-bintik merah/ungu yang tidak hilang saat ditekan
- Bayi rewel / menangis tidak seperti biasanya, atau sebaliknya justru tidak menangis sama sekali
- Kuning pada kulit atau mata yang muncul lebih awal atau sangat pekat
Gejala pada anak-anak
- Bayi mungkin menunjukkan kesulitan bernapas, tampak biru di bibir atau kuku
- Bayi terlihat sangat lemas, lunglai, dan tidak bergerak aktif seperti biasanya
- Kejang atau gerakan tubuh yang tidak biasa
- Tidak buang air kecil sedikit pun selama 6 jam atau lebih
- Tubuh terasa dingin, terutama di tangan dan kaki
Gejala pada lansia
- Pada kategori usia ini, tidak diterapkan karena topik ini khusus untuk bayi baru lahir
Penyebab
Penyebab utama
- Infeksi bakteri yang didapat sebelum lahir (misalnya melalui plasenta) dari ibu yang sedang mengalami infeksi
- Bakteri yang masuk saat bayi melewati jalan lahir, seperti dari infeksi vagina/ketuban
- Paparan kuman setelah lahir melalui kontak dengan orang yang sakit, peralatan medis yang tidak steril, atau melalui luka pusar
- Infeksi virus, seperti virus herpes simpleks atau cytomegalovirus, jarang tetapi bisa menyebabkan sepsis
- Jamur (kandidiasis) lebih sering terjadi pada bayi prematur dengan perawatan intensif
Faktor risiko
- Bayi lahir prematur (kurang dari 37 minggu kehamilan)
- Berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 gram)
- Ketuban pecah lebih awal atau sebelum waktunya
- Persalinan lama atau sulit
- Ibu mengalami infeksi pada kehamilan atau persalinan, seperti radang selaput ketuban (korioamnionitis)
- Bayi memerlukan alat bantu napas atau terpasang infus/kateter dalam waktu lama
- Kurangnya kebersihan saat memotong tali pusat atau merawat tali pusat setelah lahir
- Bayi ibu yang sebelumnya pernah melahirkan bayi dengan sepsis
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter jika:
- Jika bayi baru lahir menunjukkan tanda bahaya seperti yang disebutkan pada bagian darurat, segera bawa ke unit gawat darurat
- Jika bayi demam atau suhu rendah, lemas, tidak mau menyusu, atau napas tampak abnormal
- Segera periksakan jika Anda merasa ada yang tidak wajar pada bayi, bahkan jika gejalanya masih ringan
Buat janji temu rutin jika:
- Lakukan pemeriksaan terjadwal ke dokter anak atau fasilitas kesehatan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi
- Diskusikan dengan dokter jika bayi Anda lahir prematur atau memiliki faktor risiko sepsis untuk menentukan jadwal kontrol yang tepat
- Konsultasikan tentang imunisasi yang disarankan oleh Kemenkes untuk melindungi bayi dari infeksi berbahaya
Diagnosis
Dokter akan mendiagnosis sepsis pada bayi baru lahir berdasarkan pemeriksaan fisik yang menyeluruh, riwayat kehamilan dan persalinan, serta pemeriksaan penunjang. Tidak ada satu pemeriksaan tunggal yang pasti, butuh kombinasi beberapa tes untuk memperkirakan adanya infeksi dan seberapa parahnya.
Tes yang mungkin dilakukan
- Pemeriksaan darah lengkap untuk melihat jumlah sel darah putih, trombosit, dan tanda peradangan (seperti CRP atau prokalsitonin)
- Kultur darah untuk mencoba menumbuhkan bakteri penyebab infeksi dari darah bayi
- Pemeriksaan urine (urinalisis) dan kultur urine, terutama jika infeksi dicurigai dari saluran kemih
- Analisis cairan serebrospinal (pungsi lumbal) untuk memeriksa kemungkinan meningitis
- Foto rontgen dada (jika ada gejala pernapasan)
- Pemeriksaan kadar gula darah dan elektrolit untuk menilai kondisi umum
- Kultur dari swab pusar atau saluran pernapasan jika ada tanda infeksi lokal
Apa yang diharapkan saat janji temu
Bayi yang diduga sepsis akan segera dirawat di rumah sakit, biasanya di NICU. Dokter akan mulai memberikan antibiotik secara intravena sebelum hasil kultur keluar (empiris) dan kemudian menyesuaikannya dengan hasil. Hasil kultur dapat memakan waktu 48–72 jam. Selama dirawat, tim medis akan memantau tanda vital dan fungsi organ bayi secara ketat. Anda akan mendapat penjelasan tentang kondisi bayi dan diberi kesempatan untuk bertanya.
Perawatan
Pengobatan sepsis pada bayi baru lahir dilakukan di rumah sakit, umumnya di unit perawatan intensif bayi. Tujuannya adalah memberantas infeksi, menjaga organ tubuh tetap berfungsi, dan mendukung bayi agar pulih. Waktu memulai pengobatan sangat berpengaruh pada kesembuhan bayi.
Perawatan mandiri di rumah
- Tidak ada perawatan mandiri untuk sepsis. Jangan mencoba memberikan obat apa pun di rumah.
- Ikuti semua anjuran tim medis dan aktif bertanya jika ada hal yang tidak dipahami
- Berikan ASI perah jika bayi boleh minum, karena ASI membantu daya tahan tubuh, atau ikuti rekomendasi dokter mengenai nutrisi bayi
- Cuci tangan setiap kali akan menyentuh bayi, terutama saat berkunjung di rumah sakit
- Batasi jumlah pengunjung di kamar bayi untuk mencegah infeksi silang
Perawatan medis
Pengobatan utama adalah pemberian antibiotik melalui infus, yang bekerja melawan bakteri penyebab infeksi. Antibiotik biasanya diberikan segera sebelum hasil tes keluar dan dapat diganti atau disesuaikan setelah hasil kultur diketahui. Dalam kasus infeksi jamur, dokter akan memberikan obat antijamur. Selain itu, bayi mungkin membutuhkan terapi oksigen, alat bantu napas (ventilator), obat penstabil tekanan darah, infus cairan dan elektrolit, serta pengobatan untuk gejala lain seperti kejang atau masalah pembekuan darah. Yang perlu ditekankan adalah dokter akan memilih obat yang tepat sesuai kondisi bayi.
Kapan operasi dipertimbangkan?
Operasi jarang dilakukan pada sepsis bayi baru lahir, tetapi jika infeksi berasal dari jaringan mati (nekrosis) atau terdapat kumpulan nanah (abses) yang perlu dikeluarkan, tindakan pembedahan mungkin diperlukan. Keputusan ini akan dibuat oleh tim dokter bedah anak dan tim neonatologi.
Hidup dengan kondisi ini
Setelah bayi dirawat dan dinyatakan pulih, Anda perlu memantau tumbuh kembangnya secara rutin. Sebagian besar bayi yang sembuh dari sepsis dapat hidup normal, namun risiko keterlambatan perkembangan sedikit lebih tinggi, terutama pada bayi prematur. Ikuti jadwal kontrol ke dokter anak, pantau kemampuan makannya, perhatikan tanda-tanda infeksi baru, dan berikan stimulasi perkembangan yang sesuai usia.
Tips gaya hidup
- Jaga kebersihan lingkungan bayi, termasuk membersihkan mainan dan permukaan yang sering disentuh
- Cuci tangan sebelum memegang bayi, setelah mengganti popok, atau setelah keluar rumah
- Hindari merokok di dalam rumah dan jaga sirkulasi udara tetap baik
- Puaskan bayi dengan disiplin jadwal tidur dan rutinitas menyusu yang cukup
- Kenakan pakaian yang sesuai untuk menjaga suhu tubuh bayi tetap hangat, tidak kepanasan atau kedinginan
Diet dan olahraga
Nutrisi utama bayi adalah ASI atau susu formula sesuai rekomendasi dokter. ASI memberikan kekebalan tambahan, jadi jika memungkinkan teruskan pemberian ASI. Untuk bayi yang lebih besar setelah keluar dari perawatan, lanjutkan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sesuai usia dan anjuran dokter. Bayi tidak memerlukan olahraga, tetapi stimulasi berupa tummy time, disentuh, diajak bicara, dan dibedong dengan benar membantu perkembangan otot dan sarafnya.
Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional
Mengurus bayi yang sakit dapat menimbulkan stres, kecemasan, bahkan depresi pada orang tua. Merasa khawatir, takut, atau bingung adalah hal yang wajar. Jangan simpan sendiri perasaan Anda. Bicaralah dengan pasangan, keluarga, atau teman yang Anda percaya. Jika perasaan cemas atau sedih berlanjut dan mengganggu kemampuan merawat bayi, segera minta bantuan profesional. Ingat, merawat diri Anda juga berarti merawat bayi Anda.
Pencegahan
Tidak semua kasus sepsis bayi dapat dicegah, karena infeksi bisa terjadi di dalam kandungan atau saat persalinan. Namun, beberapa langkah dapat menurunkan risiko secara signifikan, terutama dengan perawatan kehamilan yang baik, kebersihan saat persalinan, dan perawatan tali pusat yang bersih.
Vaksin
Mengikuti jadwal imunisasi yang dianjurkan oleh Kemenkes, seperti imunisasi DPT dan hepatitis B, dapat melindungi bayi dari beberapa penyakit infeksi yang bisa berujung sepsis. Vaksin untuk ibu hamil seperti vaksin tetanus difteri (Td) juga membantu melindungi bayi lahir dengan daya tahan tubuh yang lebih baik.
Program skrining
Pada ibu hamil, pemeriksaan rutin kehamilan (antenatal) dapat membantu mendeteksi dan mengobati infeksi yang berisiko menyebabkan sepsis. Jika ibu memiliki infeksi saluran kemih atau streptokokus grup B, dokter dapat memberikan pengobatan atau tindakan pencegahan saat persalinan sesuai protokol medis.
Komplikasi
Jika tidak diobati
- Syok sepsis — tekanan darah turun drastis sehingga organ kekurangan oksigen
- Meningitis — infeksi menyebar ke selaput otak yang dapat menyebabkan kerusakan saraf
- Gangguan pembekuan darah dan perdarahan internal
- Kerusakan organ seperti ginjal, hati, atau paru-paru
- Kejang dan keterlambatan perkembangan pada bayi yang selamat
- Dalam kasus terparah, dapat berakhir dengan kematian
Prospek jangka panjang
Kabar baiknya adalah dengan penanganan yang cepat dan tepat, mayoritas bayi baru lahir dengan sepsis dapat pulih sepenuhnya. Semakin dini sepsis terdeteksi dan diobati, semakin kecil risiko komplikasi jangka panjang. Banyak bayi yang sembuh dari sepsis kemudian tumbuh menjadi anak yang sehat dan normal.
Cari dukungan
Organisasi lokal
- Puskesmas / fasilitas kesehatan tingkat pertama di dekat Anda · Indonesia
- Rumah sakit dengan layanan anak (poli anak atau NICU) · Indonesia
Tautan eksternal membuka situs web pihak ketiga. Ruqelo Health tidak bertanggung jawab atas konten eksternal. Mencantumkan organisasi tidak berarti dukungan.
Selalu pastikan dengan dokter Anda
Pedoman kesehatan bervariasi menurut negara dan wilayah. Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pedoman klinis internasional tetapi mungkin tidak mencerminkan pedoman, obat-obatan, atau praktik spesifik di negara Anda. Selalu diskusikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda sendiri, dan rujuk ke pedoman kesehatan nasional setempat jika tersedia.
Pemberitahuan penting Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi. Tidak menggantikan nasihat medis, diagnosis, atau perawatan profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi tentang kondisi spesifik Anda. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi layanan darurat setempat.
Kondisi terkait
Sumber dan panduan
Artikel ini bersifat edukatif dan disusun dengan mengacu pada sumber informasi kesehatan serta panduan klinis yang diakui jika tersedia. Tautan sumber spesifik dapat bervariasi menurut topik.
Terakhir diperbarui: 31 Juli 2026
Catatan edukatif: Informasi ini hanya untuk edukasi dan bukan diagnosis.
Gunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, saran tenaga kesehatan berlisensi.
Jika gejala parah, memburuk, atau mendesak, hubungi nomor darurat setempat atau cari perawatan darurat.