Batuk Rejan (Pertusis): Gejala, Pengobatan, dan Pencegahan
Berdasarkan panduan klinis Saudi
Gambaran umum
Batuk rejan, yang juga disebut pertusis, adalah infeksi saluran pernapasan yang sangat menular. Infeksi ini menyebabkan batuk parah yang berkepanjangan, sering kali dengan suara burung gagak atau 'whoop' saat menarik napas setelah batuk. Batuk ini bisa berlangsung berminggu-minggu dan paling berbahaya pada bayi.
Fakta penting
- Disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis.
- Menular melalui percikan air liur saat batuk atau bersin.
- Paling berisiko pada bayi di bawah 6 bulan yang belum lengkap imunisasinya.
- Dapat dicegah dengan vaksinasi lengkap sesuai jadwal imunisasi dasar.
- Pengobatan dengan antibiotik paling efektif jika dimulai pada awal penyakit.
Di Indonesia, batuk rejan masih sering terjadi, terutama pada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Kasusnya dapat meningkat jika cakupan vaksinasi menurun, sehingga penting untuk selalu melengkapi imunisasi.
Siapa pun dapat terkena batuk rejan, tetapi bayi dan anak kecil paling berisiko mengalami komplikasi berat. Remaja dan orang dewasa juga bisa terkena, dan gejalanya sering kali lebih ringan sehingga tidak disadari.
Gejala
- Bayi berhenti bernapas atau kulit menjadi kebiruan.
- Sulit bernapas parah, cuping hidung kembang kempis, atau tampak sangat sesak.
- Batuk disertai kehilangan kesadaran atau tubuh lemas lunglai.
- Wajah, bibir, atau lidah kebiruan pada siapa pun.
- ⚠Bayi di bawah 3 bulan dengan gejala batuk atau kesulitan minum.
- ⚠Batuk yang hebat sampai menyebabkan muntah terus-menerus sehingga tidak bisa makan/minum.
- ⚠Demam tinggi.
- ⚠Batuk berlangsung lebih dari 3 minggu dan semakin memburuk.
Gejala umum
- Batuk terus-menerus yang berlangsung lebih dari 2 minggu.
- Bunyi 'whoop' saat menarik napas setelah batuk.
- Muntah setelah batuk.
- Kelelahan ekstrem setelah serangan batuk.
- Pilek ringan dan demam rendah pada awal infeksi.
- Batuk yang semakin parah pada malam hari.
Gejala pada anak-anak
- Bayi mungkin tidak mengalami batuk khas, justru berhenti bernapas sejenak (apnea).
- Wajah atau bibir tampak kebiruan saat batuk.
- Kesulitan menyusu atau minum karena batuk.
- Bayi tampak lemas, mengantuk, atau tidak responsif.
Gejala pada lansia
- Batuk berkepanjangan yang mengganggu tidur.
- Nyeri dada atau otot akibat batuk yang kuat.
- Kelelahan yang berkepanjangan.
- Gejala yang mirip batuk biasa, sering kali tidak disadari sebagai pertusis.
Penyebab
Penyebab utama
- Infeksi bakteri Bordetella pertussis yang menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan peradangan.
- Penularan melalui percikan air liur saat penderita batuk, bersin, atau berbicara.
- Berbagi gelas, alat makan, atau barang yang terkontaminasi air liur.
Faktor risiko
- Belum pernah divaksinasi atau imunisasi pertusis tidak lengkap.
- Tinggal serumah atau kontak erat dengan penderita batuk rejan.
- Bayi di bawah 6 bulan yang belum selesai vaksinasi dasar.
- Ibu hamil yang belum mendapatkan vaksinasi ulang.
- Kondisi daya tahan tubuh yang lemah.
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter jika:
- Bayi di bawah 3 bulan dengan batuk, sulit minum, atau mengantuk berlebihan.
- Batuk parah sampai muntah, wajah merah kebiruan, atau terasa sulit bernapas.
- Demam tinggi yang berlangsung lebih dari 3 hari.
Buat janji temu rutin jika:
- Batuk berlangsung lebih dari 2 minggu meskipun ringan.
- Batuk yang mengganggu tidur, sekolah, atau aktivitas sehari-hari.
- Kontak erat dengan penderita pertusis dan ingin berkonsultasi tentang pencegahan.
Diagnosis
Dokter akan bertanya tentang gejala, riwayat kontak dengan penderita, dan status imunisasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis.
Tes yang mungkin dilakukan
- Pemeriksaan usap hidung atau tenggorokan untuk kultur bakteri.
- Tes PCR untuk mendeteksi materi genetik bakteri penyebab pertusis.
- Tes darah untuk memeriksa antibodi terhadap bakteri.
Apa yang diharapkan saat janji temu
Jika dicurigai pertusis, dokter mungkin akan merujuk ke fasilitas yang lebih lengkap. Hasil pemeriksaan bisa memakan waktu beberapa hari. Setelah diagnosis ditegakkan, dokter akan menjelaskan pilihan pengobatan dan cara mencegah penularan ke keluarga.
Perawatan
Pengobatan bertujuan meredakan gejala, mencegah penularan, dan mengurangi risiko komplikasi. Pemberian antibiotik dapat membantu jika dimulai lebih awal, meskipun batuk bisa bertahan lama setelah bakteri hilang.
Perawatan mandiri di rumah
- Istirahat cukup dan minum banyak air putih untuk mencegah dehidrasi.
- Makan dalam porsi kecil dan sering.
- Jauhi asap rokok dan polusi udara di sekitar penderita.
- Gunakan masker saat keluar rumah untuk melindungi orang lain.
- Gunakan pelembab udara (humidifier) untuk meredakan batuk.
Perawatan medis
Dokter dapat meresepkan antibiotik untuk membunuh bakteri dan mencegah penularan, terutama jika diberikan dalam 3–4 minggu pertama. Untuk meredakan batuk, dokter mungkin meresepkan obat pereda batuk yang aman sesuai kondisi. Bayi dan anak sebaiknya tidak diberi obat batuk bebas tanpa anjuran dokter. Pada kasus berat, perawatan di rumah sakit diperlukan untuk mengawasi pernapasan dan memberikan oksigen.
Kapan operasi dipertimbangkan?
Tidak ada prosedur operasi untuk menangani batuk rejan.
Hidup dengan kondisi ini
Pemulihan pertusis membutuhkan waktu. Batuk bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Selama masa ini, pastikan istirahat cukup, minum banyak cairan, dan pantau tanda-tanda bahaya. Ikuti semua anjuran dokter dan jangan berhenti pengobatan sebelum waktunya.
Tips gaya hidup
- Jaga kebersihan tangan dan gunakan masker agar tidak menulari orang lain.
- Cuci bersih peralatan makan dan pisahkan dari anggota keluarga lain.
- Pastikan semua anggota keluarga mencuci tangan sebelum menggendong bayi.
- Konsumsi makanan bergizi seimbang untuk mendukung pemulihan.
Diet dan olahraga
Tidak ada diet khusus untuk pertusis, tetapi makan teratur dengan gizi seimbang dan minum cukup air penting untuk menjaga tenaga. Aktivitas fisik ringan boleh dilakukan setelah tubuh terasa kuat, namun hindari aktivitas berat selama batuk masih sering muncul.
Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional
Batuk yang berkepanjangan dan kelelahan dapat membuat penderita dan keluarga merasa cemas atau frustrasi. Merawat bayi yang sakit juga bisa sangat melelahkan secara emosional. Jika perasaan ini terasa berat, jangan ragu berbicara dengan tenaga kesehatan atau konselor. Ingat, Anda tidak sendirian.
Pencegahan
Ya, batuk rejan dapat dicegah dengan vaksinasi yang lengkap. Kementerian Kesehatan Indonesia merekomendasikan imunisasi DPT untuk anak sesuai jadwal imunisasi dasar.
Vaksin
Imunisasi dasar DPT-HB-Hib diberikan pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan, dilanjutkan dengan booster pada usia 18 bulan dan usia 5 tahun. Untuk orang dewasa, terutama ibu hamil di trimester ketiga, vaksin pertusis (Tdap) dapat diberikan untuk melindungi bayi dari penularan. Tanyakan jadwal imunisasi yang tepat di puskesmas atau klinik terdekat.
Program skrining
Tidak ada skrining khusus untuk pertusis pada orang tanpa gejala. Pemeriksaan dilakukan pada orang yang mengalami gejala atau yang berisiko tinggi, misalnya bayi yang baru kontak dengan penderita.
Komplikasi
Jika tidak diobati
- Pneumonia (infeksi paru-paru).
- Kejang.
- Gangguan otak karena kekurangan oksigen (ensefalopati).
- Hernia atau robekan otot akibat batuk yang sangat kuat.
- Kematian pada bayi, meskipun jarang, terutama pada bayi di bawah 6 bulan.
Prospek jangka panjang
Dengan pengobatan dan perawatan yang tepat, hampir semua orang pulih sepenuhnya, meskipun batuk mungkin berlangsung beberapa minggu. Yang penting adalah menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter dan memastikan imunisasi lengkap untuk melindungi diri serta orang sekitar.
Cari dukungan
Tautan eksternal membuka situs web pihak ketiga. Ruqelo Health tidak bertanggung jawab atas konten eksternal. Mencantumkan organisasi tidak berarti dukungan.
Selalu pastikan dengan dokter Anda
Pedoman kesehatan bervariasi menurut negara dan wilayah. Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pedoman klinis internasional tetapi mungkin tidak mencerminkan pedoman, obat-obatan, atau praktik spesifik di negara Anda. Selalu diskusikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda sendiri, dan rujuk ke pedoman kesehatan nasional setempat jika tersedia.
Pemberitahuan penting Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi. Tidak menggantikan nasihat medis, diagnosis, atau perawatan profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi tentang kondisi spesifik Anda. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi layanan darurat setempat.
Kondisi terkait
Sumber dan panduan
Artikel ini bersifat edukatif dan disusun dengan mengacu pada sumber informasi kesehatan serta panduan klinis yang diakui jika tersedia. Tautan sumber spesifik dapat bervariasi menurut topik.
Terakhir diperbarui: 31 Juli 2026
Catatan edukatif: Informasi ini hanya untuk edukasi dan bukan diagnosis.
Gunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, saran tenaga kesehatan berlisensi.
Jika gejala parah, memburuk, atau mendesak, hubungi nomor darurat setempat atau cari perawatan darurat.