Batuk rejan (pertusis)
Berdasarkan panduan klinis Saudi
Jika gejala parah, memburuk, atau mengancam jiwa, segera cari perawatan medis darurat.
Gambaran umum
Batuk rejan, atau pertusis, adalah infeksi saluran pernapasan yang sangat menular yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Penyakit ini terkenal dengan batuk parah yang berkepanjangan, sering diikuti dengan suara 'whoop' saat menarik napas setelah batuk. Bakteri ini menyerang lapisan tenggorokan dan saluran udara, menyebabkan peradangan hebat.
Fakta penting
- Pertusis sangat menular dan menyebar melalui percikan batuk atau bersin.
- Bayi di bawah usia 1 tahun, terutama yang belum divaksinasi, berisiko tinggi mengalami komplikasi serius.
- Vaksinasi adalah cara paling efektif untuk mencegah batuk rejan.
Di Indonesia, kasus batuk rejan masih terjadi, terutama di wilayah dengan cakupan vaksinasi yang rendah. Meskipun tidak seperti flu biasa, penyakit ini bisa muncul dalam wabah lokal jika banyak anak tidak diimunisasi.
Batuk rejan bisa menyerang semua usia, tetapi paling berbahaya pada bayi dan anak kecil. Orang dewasa dan remaja yang kekebalannya menurun bisa terkena bentuk yang lebih ringan, yang sering tidak terdiagnosis sehingga ikut menularkan ke bayi di sekitarnya.
Gejala
- Bayi berhenti bernapas walaupun sejenak (apnea).
- Bibir, lidah, atau kulit berubah menjadi biru atau keabu-abuan.
- Kejang-kejang.
- Tampak sangat lemas, tidak responsif, atau sulit dibangunkan.
- ⚠Batuk parah hingga tidak bisa minum atau sulit bernapas di antara batuk.
- ⚠Tanda-tanda dehidrasi: mulut kering, tidak buang air kecil selama 6 jam, menangis tanpa air mata.
- ⚠Demam tinggi (di atas 38,5°C) yang tidak turun dengan kompres biasa.
- ⚠Muntah terus-menerus hingga semua makanan dan minuman keluar.
Gejala umum
- Tahap awal: pilek, bersin, batuk ringan, dan demam rendah (mirip flu biasa).
- Setelah 1-2 minggu: batuk semakin parah, terjadi serangan batuk panjang yang berulang-ulang hingga sulit bernapas.
- Suara 'whoop' khas saat menarik napas panjang setelah batuk (tidak selalu muncul pada dewasa).
- Muntah setelah batuk keras.
- Kelelahan luar biasa setelah batuk.
Gejala pada anak-anak
- Serangan batuk yang lebih sering dan lebih kuat.
- Suara whoop lebih jelas terdengar.
- Wajah memerah atau membiru saat batuk.
- Kesulitan makan dan minum, berisiko dehidrasi.
- Pneumonia (radang paru) sebagai komplikasi umum.
Gejala pada lansia
- Batuk kering berkepanjangan yang sering dikira bronkitis atau asma.
- Jarang terdengar suara whoop, sehingga mudah terlewatkan.
- Terbangun di malam hari karena batuk yang mengganggu.
- Bisa mengalami patah tulang rusuk akibat batuk hebat, terutama pada lansia dengan tulang rapuh.
Penyebab
Penyebab utama
- Infeksi bakteri Bordetella pertussis yang menyebar melalui droplet (percikan air liur kecil) saat batuk atau bersin.
- Bakteri menempel pada lapisan saluran napas dan menghasilkan racun yang menyebabkan peradangan serta batuk hebat.
Kapan harus ke dokter
Segera temui dokter jika:
- Bayi kurang dari 6 bulan yang menunjukkan gejala batuk, meski ringan.
- Siapa pun yang mengalami sesak napas, napas berbunyi, atau kesulitan bernapas.
- Batuk yang menyebabkan wajah pucat atau kebiruan.
- Demam tinggi disertai batuk yang semakin parah.
Buat janji temu rutin jika:
- Batuk yang tidak kunjung membaik setelah 2 minggu.
- Riwayat kontak dengan orang yang terdiagnosis batuk rejan.
- Ibu hamil yang terpapar dengan penderita, meski tanpa gejala.
Diagnosis
Dokter akan menanyakan riwayat gejala dan kontak dengan penderita, lalu melakukan pemeriksaan fisik mendengarkan suara napas dan batuk. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Tes yang mungkin dilakukan
- Usap hidung atau tenggorokan (swab) untuk tes PCR (mendeteksi materi genetik bakteri).
- Kultur bakteri dari sampel swab (membutuhkan waktu lebih lama).
- Tes darah kadang dilakukan untuk melihat kenaikan sel darah putih sebagai penanda infeksi.
Apa yang diharapkan saat janji temu
Prosedur usap mungkin membuat tidak nyaman sebentar pada anak. Hasil tes PCR bisa keluar dalam 1-2 hari, sementara kultur bisa memakan waktu 5-7 hari. Seringkali dokter akan memulai pengobatan berdasarkan kecurigaan klinis tanpa menunggu hasil laboratorium, terutama pada kasus yang jelas.
Perawatan
Tujuan pengobatan adalah membasmi bakteri, mengurangi gejala, dan mencegah penularan ke orang lain. Pengobatan akan disesuaikan dengan usia, berat badan, dan kondisi kesehatan pasien.
Perawatan mandiri di rumah
- Istirahat yang cukup untuk membantu tubuh melawan infeksi.
- Minum banyak air hangat untuk mencegah dehidrasi dan mengencerkan lendir.
- Makan makanan lunak dan bergizi dalam porsi kecil tapi sering.
- Gunakan pelembap udara (humidifier) atau hirup uap hangat untuk meredakan tenggorokan.
- Hindari asap rokok, debu, dan iritan lain yang bisa memicu batuk.
Perawatan medis
Dokter mungkin meresepkan antibiotik untuk membunuh bakteri dan memperpendek masa penularan. Antibiotik paling efektif jika diberikan pada awal sakit. Untuk meredakan batuk, obat batuk bebas umumnya tidak dianjurkan karena batuk rejan bukan batuk biasa; penggunaannya harus atas petunjuk dokter. Pada bayi atau kasus berat, perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan untuk pemantauan pernapasan, pemberian oksigen, dan cairan infus. Jangan pernah memberikan obat sisa atau obat orang lain karena dosisnya berbeda.
Hidup dengan kondisi ini
Selama masa sakit, Anda atau anak Anda harus tinggal di rumah dan menghindari kontak dekat dengan orang lain, terutama bayi, ibu hamil, dan lansia. Selalu tutup mulut dan hidung dengan tisu atau siku bagian dalam saat batuk atau bersin, lalu cuci tangan. Bersihkan permukaan yang sering disentuh.
Tips gaya hidup
- Terapkan istirahat total di rumah sampai dokter menyatakan tidak menularkan lagi (biasanya setelah 5 hari minum antibiotik).
- Jaga kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih tangan berbasis alkohol.
- Gunakan masker jika harus berinteraksi dengan anggota keluarga yang rentan.
Diet dan olahraga
Pastikan asupan cairan cukup (air putih, sup, jus tanpa gula berlebihan) dan makan makanan bergizi seperti bubur, nasi tim, atau buah lembut. Hindari makanan pedas atau berminyak yang bisa merangsang batuk. Aktivitas fisik berat harus dihindari sampai benar-benar pulih untuk menghindari serangan batuk yang dipicu oleh napas cepat.
Kesehatan mental dan kesejahteraan emosional
Batuk yang berkepanjangan dan mengganggu tidur dapat menyebabkan kelelahan, stres, dan frustrasi, baik bagi pasien maupun orang tua yang merawat. Jangan ragu untuk berbagi perasaan dengan pasangan, keluarga, atau teman dekat. Jika Anda merasa sangat cemas atau kewalahan, bicarakan dengan dokter atau tenaga kesehatan jiwa.
Pencegahan
Ya, batuk rejan dapat dicegah dengan vaksinasi yang diberikan sesuai jadwal. Vaksin ini sangat aman dan efektif.
Vaksin
Vaksinasi pertusis diberikan sebagai bagian dari vaksin kombinasi DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus). Di Indonesia, imunisasi dasar diberikan pada bayi usia 2, 3, dan 4 bulan, dengan booster pada 18 bulan dan 5 tahun. Untuk anak lebih besar, remaja, dan dewasa, tersedia vaksin penguat (booster) yang dianjurkan, terutama bagi ibu hamil dan orang yang kontak erat dengan bayi. Ikuti jadwal imunisasi nasional dari Kemenkes dan konsultasikan dengan bidan atau dokter.
Program skrining
Tidak ada skrining rutin untuk pertusis pada orang tanpa gejala. Namun, jika ada kasus terkonfirmasi, petugas kesehatan akan melakukan pelacakan kontak (tracing) untuk mencari dan memeriksa orang-orang yang mungkin tertular agar penularan bisa diputus.
Komplikasi
Jika tidak diobati
- Pneumonia (infeksi paru serius), yang merupakan penyebab kematian utama pada bayi dengan batuk rejan.
- Kejang akibat kekurangan oksigen saat batuk berkepanjangan.
- Kerusakan otak (ensefalopati) akibat kekurangan oksigen atau perdarahan otak.
- Kematian, terutama pada bayi di bawah 6 bulan.
- Pada orang dewasa, bisa menyebabkan patah tulang rusuk, hernia, atau inkontinensia (kebocoran urin) sementara akibat batuk kuat.
Prospek jangka panjang
Dengan diagnosis dini dan perawatan yang tepat, sebagian besar orang sembuh sepenuhnya. Semakin muda usia, terutama bayi, semakin tinggi risiko komplikasi, namun dukungan medis modern telah menurunkan angka kematian secara signifikan. Jangan kehilangan harapan — banyak anak dan dewasa pulih total dan hidup normal kembali.
Cari dukungan
Organisasi internasional
Organisasi lokal
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ↗ · Indonesia
- Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ↗ · Indonesia
Saluran bantuan
Tautan eksternal membuka situs web pihak ketiga. Ruqelo Health tidak bertanggung jawab atas konten eksternal. Mencantumkan organisasi tidak berarti dukungan.
Selalu pastikan dengan dokter Anda
Pedoman kesehatan bervariasi menurut negara dan wilayah. Informasi dalam artikel ini didasarkan pada pedoman klinis internasional tetapi mungkin tidak mencerminkan pedoman, obat-obatan, atau praktik spesifik di negara Anda. Selalu diskusikan masalah kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga kesehatan Anda sendiri, dan rujuk ke pedoman kesehatan nasional setempat jika tersedia.
Pemberitahuan penting Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi. Tidak menggantikan nasihat medis, diagnosis, atau perawatan profesional. Selalu konsultasikan dengan tenaga kesehatan yang berkualifikasi tentang kondisi spesifik Anda. Jika Anda mengalami keadaan darurat medis, segera hubungi layanan darurat setempat.
Kondisi terkait
Sumber dan panduan
Artikel ini bersifat edukatif dan disusun dengan mengacu pada sumber informasi kesehatan serta panduan klinis yang diakui jika tersedia. Tautan sumber spesifik dapat bervariasi menurut topik.
Terakhir diperbarui: 31 Juli 2026
Catatan edukatif: Informasi ini hanya untuk edukasi dan bukan diagnosis.
Gunakan untuk mendukung, bukan menggantikan, saran tenaga kesehatan berlisensi.
Jika gejala parah, memburuk, atau mendesak, hubungi nomor darurat setempat atau cari perawatan darurat.
Panduan dapat berbeda menurut negara atau wilayah. Konfirmasikan rekomendasi lokal dengan penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat.